Dekat Membaca Na Willa: Rembug Buku #4

 
    Jakarta (27/09)—Ini adalah kali pertama rembuku mengadakan #rembugbuku yang mengundang pembahas anak-anak. Dipandu Sekar Ayu Adhaningrum dan Elfira Prabandari, keempat pembahas menceritakan pengalaman membaca mereka. Para pembahas, dua orang dewasa dan dua anak-anak, adalah pembaca setia Na Willa. Pippo yang berusia 10 tahun, membaca Na Willa sejak beberapa tahun yang lalu. Hanun yang kini sudah SMP, membaca Na Willa sejak di kelas 4 SD. Tak hanya, anak-anak, Impian Nopitasari, seorang esais dari Solo, juga sudah membaca ketiga judul seri Na Willa. Sama halnya dengan Ari Ambarwati, seorang dosen bahasa Indonesia dari Surabaya.
    Sejak diterbitkan pertama kali oleh POST Press pada tahun 2018 hingga sekarang, buku Na Willa telah berhasil dicetak ulang sebanyak lebih dari lima kali. Hingga saat ini, seri Na Willa sudah terbit dalam tiga judul: Na Willa, Na Willa dan Rumah dalam Gang, serta Na Willa dan Hari-Hari Ramai.
    Na Willa berkisah tentang seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun yang awalnya tinggal di Surabaya. Willa, Mak, dan Pak (pada buku ke-2) harus pindah ke Jakarta karena pekerjaan Pak. Willa sedih sekali meninggalkan rumah kecil dalam gang-nya dan harus berpisah dengan teman-temannya (Farida, Dul, dan Bud). Na Willa adalah anak yang biasa saja, seperti kita semua. Pernah diejek oleh temannya, pernah penasaran dengan orang-orang yang mengisi suara di radio, pernah sebal belajar berhitung, pernah juga ingin sekali ikut Farida mengaji. 


    Pippo mulai membaca Na Willa ketika dikenalkan ibunya. Pippo menceritakan keseruannya membaca, “Pertamanya, aku baca satu. Eh, seru. Terus aku bilang Ibu ada lagi nggak yang ke-2? Ada lagi nggak yang ke-3?” Pippo merasa pernah mengalami apa yang Willa alami, karena ia juga paling tidak suka kalau harus belajar berhitung. Willa, menurut Pippo adalah sosok anak pemberani yang mampu mengungkapkan apa yang ada di sekelilingnya, misalnya waktu diejek, dia berani melawan. 
    Sedikit berbeda dari Pippo yang mengenal Willa dari rumah, Hanun membaca Na Willa di sekolahnya, Sekolah Kembang, ketika duduk di kelas 4 SD. Ceritanya membuat Hanun penasaran dan akhirnya memutuskan untuk membuat penelitian kecil tentang Na Willa sebagai tugas lulus SD-nya. Menurutnya, "Na Willa sangat relate dengan pengalaman sehari-hari."
    Ari Ambarwati berpendapat bahwa cerita Na Willa memiliki kedekatan dengannya karena ia menghabiskan masa kecil di Surabaya. Ia membayangkan gang-gang Surabaya tempat Willa bermain bersama Dul dan Ida. "Na Willa berhasil memotret profil anak-anak lintas generasi," katanya. Ari pernah seperti Willa memakai bedak dingin alih-alih bedak dewasa. Pembaca anak sekerang seperti Pippo juga bisa merasakan malasnya pelajaran berhitung seperti Willa. Hal tersebut membuat pembaca merasa dekat dengan Na Willa. 
    Tak kalah menarik, Impian Nopitasari mengungkapkan bahwa Na Willa adalah cerita yang kompleks. Salah satunya, karena Reda Gaudiamo berani menggambarkan isu rasisme di dalamnya. Misalnya, saat Na Willa diejek “asu Cino” oleh temannya yang difabel. Menurutnya, “Bagi kita orang dewasa saja ini rumit, apalagi bagi anak-anak.” Selain itu, isu inklusivitas juga hadir dalam cerita Na Willa, misalnya teman Willa Teddy yang digambarkan sebagai anak berkebutuhan khusus. Teddy hobi berhitung, bahkan menghitung jumlah kaki kursi!


    Reda Gaudiamo yang bergabung sejak acara dimulai, pada akhir acara, sempat menyinggung bahwa Na willa buku pertama tidak pernah ditujukan untuk pembaca anak. Meskipun demikian, Impian berpendapat hal ini justru menjadi menarik. Karena biasanya penulis buku cerita anak memiliki kecenderungan menulis yang baik-baik saja untuk anak. Kenyataannya, sama seperti yang terjadi di semesta Na Willa, hari-hari kita juga dipenuhi kesedihan dan kesulitan, bahkan kadang rasisme.
    Kendati demikian, Na Willa mampu menggambarkan hal istimewa, yang disebut Ari Ambarwati sebagai “kemewahan” dalam bergaul. Dalam dunia Na Willa, anak-anak bisa dan mau bergaul dengan teman-temannya yang berbeda keyakinan agama dengan leluasa. Meskipun Mak berteriak marah ketika Willa pergi ikut Ida mengaji, bisa dipastikan Mak berang karena Willa membawa kabur seprei putih yang sudah dicuci dan digosok licin, bukan karena Willa ikut mengaji.

    
Lewat kolom komentar dan tanggapan langsung, beberapa peserta yang hadir juga mengungkapkan, lagi-lagi, kata relate. Mereka akrab dengan pengalaman Willa yang tidak suka pelajaran berhitung, juga seperti Ida yang senang sekali main ke rumah Willa untuk memasang pohon natal, atau seperti Willa yang ikut Ida mengaji, atau soal Willa yang memancungkan hidung dengan jepit jemuran.
    Kata relate menjadi ungkapan yang sering mengemuka dalam bahasan malam itu. Ari dan Impian sepakat, betapa narasi Reda Gaudiamo berhasil membuat pembaca anak dan dewasa bisa merasa dekat dengan Na Willa. Na Willa memang layak dinikmati oleh mereka yang menyukai buku anak! Sudahkah teman-teman membacanya? /(EFR)


Selengkapnya rekaman video Rembug Buku #4 tentang Na Willa bisa disimak di sini.






Komentar