Rembug Buku #3: Lupus yang (Tak) Pupus

 




Arum: "Hiburan!" 
Aio: "Gokil!" 
Siddha: "Ngocol!"
Nita: "Kacau!"

        Jakarta (24/05)—Begitulah tanggapan para narasumber Rembug Buku #3 saat ditanya mengenai Lupus. Diskusi yang digelar secara daring dihadiri kurang lebih 35 orang. Para peserta terdiri mulai dari orang tua, pembaca Lupus, pustakawan, fans berat Lupus, hingga peneliti Lupus.

        Sekilas tentang karya ini, dengan beberapa catatan, Lupus tergolong sastra anak Indonesia. Karya ini ditulis oleh Hilman pada kurun waktu tahun 80-an. Cerita penuh banyolan ini sukses di pasar dan dicetak hingga lintas generasi. Bukan hanya di dunia cetak, Lupus juga diangkat hingga ke layar lebar dengan peminat yang cukup masif. Setelahnya, Lupus Kecil hadir membawa kekhasannya sendiri. Menariknya, karya Lupus punya peminat lintas generasi pula hingga saat ini.

        Obrolan daring Rembug Buku #3 menghadirkan empat orang pembahas dengan usia yang beragam, yaitu Sekar Ayu Adhaningrum, Ariyo Zidni, Chrysogonus Siddha, dan Nita Andrianti. Mereka membaca dan punya perhatian istimewa pada seri-seri Lupus. Diskusi ini dimulai dengan pembacaan nukilan Lupus Kecil oleh Nita.



        Keempat pembahas punya kesannya masing-masing saat pertama kali membaca Lupus. Aio pertama kali berkenalan dengan Lupus dari tukang loak kenalannya. Hal ini membuatnya kemudian mencari Lupus di toko buku bekas. Bahasa-bahasa kekininan dalam Lupus menjadi hal yang mengesan buatnya. Selain itu, Lupus juga mengajarinya romansa remaja. Menurutnya, hal-hal baik disampaikan oleh Hilman tanpa menggurui.

        Sementara itu, Arum merasa Lupus adalah bacaan yang ringan dan menghibur. Uniknya, dia meniru kombinasi makanan dan membuat jadwal sebagaimana dilakukan Lupus. Meski begitu, Arum memberi catatan bahwa ada perbedaan culture anak-anak zaman dulu dengan anak zaman sekarang. Candaan Lupus jika dibacakan ke anak zaman sekarang perlu disaring.
Lain halnya dengan Siddha, ia membaca Lupus secara sembunyi-sembunyi, karena karya ini dirasa kurang mendidik. Namun, ia justru menikmati membaca Lupus. Di samping itu, ia juga punya memori tentang Lupus dalam lingkaran pertemanannya

        Pembahas keempat, Nita, mengenal Lupus berawal dari sinetron dengan judul yang sama di Indonesiar. Ia kagum dengan keluarga lupus yang cair. Meskipun dia akhirnya menyimpulkan bahwa kekerasan pada anak saat ini sudah semestinya dipandang dengan paradigma baru. Bullying tidak lagi bisa dianggap sebagai candaan bebas.

            Saat mengomentari secara khusus tentang penokohan Lupus, keempat pembahas ini agaknya setuju bahwa Lupus tampil sebagai tokoh bacaan yang sangat mudah menjadi sosok identifikasi. Terutama bagi anak-anak ABG periode 90-an hingga 2000-an. Lupus bisa menjadi alternatif anak keren yang mudah dan asyik untuk ditiru.



        Dalam dikusi virtual ini pula, beberapa peserta nampak urun pendapat. Kebanyakan peserta berkenalan dengan Lupus saat mereka SD atau SMP. Buat mereka yang tinggal di luar ibu kota Jakarta, cerita karya Hilman ini membantu mereka mengenal Jakarta. Termasuk di dalamnya panggilan “papi”, “mami”, “gue”, “elu” menambah kentalnya kesan metropolitan.
Salah satu peserta diskusi, Ari Ambarwati, mengangkat Lupus Kecil dalam disertasinya. Ia berpendapat Lupus punya keterampilan yang sangat kompleks untuk bisa memaksa dan mempengaruhi orang lain.

        Tak ketinggalan, dalam diskusi ini muncul obrolan tentang mengerek lagi tokoh Lupus. Namun demikian, hampir semua nampaknya sepakat perlu penyesuaian zaman yang tepat terutama soal bahan candaan yang tak lagi relevan. Meskipun hal ini berisiko untuk memangkas “jiwa” Lupus.

        Muncul pula beberapa pendapat tentang bagaimana membaca dan membacakan Lupus dalam konteks anak-anak zaman sekarang, mengingat latar cerita Lupus yang sangat kontekstual pada zaman cerita itu ditulis. Masihkah Lupus bisa dibaca(kan) anak-anak sekarang? (TYR/EFR)

        Rekaman Rembug Buku #3 dapat disimak ulang melalui tautan ini. Selamat menikmati!

Komentar